Minggu, 29 Mei 2011

Ku bersandar di pagar bolong yang tertutup tikar

Sehingga tak terlihat dari luar

Sampai kapan aku bertengkar

Sampai kapan suara hati keluar

Menari dengan alunan nada indah

Namun timbul emosi jiwa

Sampai kapan keheningan malam

Terus menjadi media pendengar

Semua keluhan ku yang ngiris di dengar

Aku tak mau semua tentang mu menjadi pahit

Aku tak mau hanya karna mu menjadi sakit

Jadilah rakit

Yang membawa ku ke tepi

Bukan membuat ku tenggelam

Di keheningan malam

suara menyebalkan digunung gede

Suara Menyebalkan di Gunung Gede

Lagi lagi suara itu terdengar setiap pagi ku bangun. Suara yang menyebalkan tapi bila suara itu tak ada dunia terasa hampa. Hari ini hari senin seperti biasa aku bangun pukul 04.30 itu juga aku harus dibangunkan. Aku mandi solat subuh lalu berangkat sekolah.

“ tetttt…. Tetttt…” bel pulang sekolah berbunyi teman-temanku berlari menuju pintu keluar seakan-akan ingin sekali pulang kerumah seperti kekasihnya sedang menunggu dirumah dan ingin cepat bertemu. Sedangkan aku berjaln santai dengan muka lesu dan malas pulang kerumah. Setiap aku sedang merasa kesal aku selalu naik ke sebuah tower air yang berada di lingkungan sekolah ku. Menurut ku itu tempat teraman yang pernah ku punya. Seperti biasa setiap magrib aku baru sampai rumah.

Sesampainya dirumah suara menyebalkan itu terdengar lagi membuatku jengkel. Aku ingin sekali menjawab semua tuduhan suara menyebalkan itu tapi aku tak pernah berani aku hanya diam dengan muka asem yang kalau dicampur ikan asin+ tempe goring dan nasi putih yang enaknya gak kalah deh sama makanan yang ada di MC. Donald. “ loh kok jadi ngomongin makanan?

Suara menyebalkan itu tak habis-habisnya mengkritik ku. Begini salah begitu salah, mau nya opo toh mas bro? kok jadi orang jawa. Apa mungkin aku nya yang memang tak bisa diatur, diandalkan tapi biar sajalah ! inilah aku buat apa aku jadi orang lain aku yang semau ku, ceroboh, grasak-grusuk . masa bodo aku nyaman dengan semua itu. Tapi kenapa suara menyebalkan itu selalu mengusikku dan menyuruhku berubah.

Suatu hari aku pergi hiking dalam rangka mengikuti kegiatan dari ekstrakulikuler yang ku ikuti. Dan sudah pasti suara menyebalkan itu berkicau lagi dia menyurh ku membawa “ini, itu ,anu, inu apa lah”. Tapi tetap saja aku tak memperdulikannya. Persiapan yang ku bawa kesana hanya baju yang ku pakai , kaos tangan panjang, dan jacket . makanan yang kubawa semuanya bahan mentah aku tidak membawa cemilan apapun. Rabu sore aku berangkat dari Jakarta menuju daerah puncak bogor tepatnya dibawah kaki gunung gede. Aku dan rombongan yang berjumalh 10 oarng berangkat menggunakan bus kota kami sampai ditujuan malam hari sekitar pukul 10 malam. Ke esokkannya kami mulai pendakian melewati jalur putri. dalam hati aku berkata “ kangen juga tidak mendengar suara menyebalkan itu padahal baru satu hari ku tak mendengarnya “.

Diperjalanan menuju puncak sanagt berat kami harus melewati beberapa tanjakan sehingga menguras banyak tenaga ku membuatku menjadi lapar. Tapi bodohnya aku tidak membuat camilan yang dipesankan suara menyebalkan itu. Ternyata apa yang dikatakan suara menyebalkan itu ada benarnya juga. Beberapa saat kemudian cuaca di sana berubah mendung sehingga huja turun dan membasahi pakaian ku aku kedinginan sangat dingin. Terlintas dibenakku suara menyebalkan itu aku menyesal karna tidak pernah mendengarkannya.

Lebih banyak lagi hal yang ku alami dan membuatku menyesal. Hari-hari ku digunung sangat melelahkan kedinginan, kelaparan, penyesalan ternyata di balik suaranya yang menyebalkan itu dia sangat perhatian padaku . di dalam hati aku berdoa ya Tuhan jika aku aku bisa turun dengan selamat dari gunung ini aku ingin sekali mendengar suara menyebalkan itu.

Jum’at sore aku sampai dengan selamat dirumah aku mencari-cari suara menyebalkan itu dan kulihat dia sedang berbaring cantik sambil memeluk fotoku. Suara menyebalkan itu adalah Ibuku. Aku memeluknya dan berjanji akan berubah dan dia tersenyum indah. Ya Tuhan terima kasih. Terima kasih juga ibu.

Aku keluar

Ada air tapi tak mengalir

Ada jalan tapi tak benar

Apa ini?

Aku canggung ?

Aku bingung ?

Ini ilmu atau apa?

Aku ditentang namun tak lekang

aku jatuh namun tak jauh

maaf aku tak sabar

maaf aku keluar

Tawa andin

Tawa Andin

Dia tak pernah bicara hanya senyum yang iya pancarkan. Setiap hari disekolah dia hanya duduk diam memperhatikan guru menerangkan dan menghilang ketika istirahat namun kembali setiap bel masuk berbunyi sebut saja andin. Suatu hari aku dan andin pulang naik angkutan umum yang sama. Rumah kami memang se arah namun kami tak pernah bicara. Suatu hari kami di pertemukan jalan bersama aku pun agak edikit canggung karena andin yang tak pernah bersuara. Meski begitu ia tetap tersenyum pada semua orang. Tak pernah sekali pun aku mendengar suaranya. aku memulai percakapan “ hy andin dimana rumah mu ? barang kali aku bisa mampir” kata ku pada andin. Namun tetap saja andin hanya menjawab dengan senyumannya. Aku peranh diceritakan teman ku yang dulu kelas x satu kelas dengan andin dia dulu bicara seperti anak-anak biasanya . namun setelah kejadian 1 bulan yang lalu andin jadi pendiam orang tua andin mengalami kecelakaan pesawat terbang dan meyebabkan orang tua andin meninggal. Dan sekarang andin tinggal bersama kakaknya yang sudah berkerja. Aku sangat ngiris mendengarnya dalam hati aku bertekad suatu hari aku pasti akan mengembalikan suara andin yang indah itu.

Di perapatan lampu merah andin dan aku berpisah “ andin aku kekanan ya kamu lurus kan?” kata ku. “ duluan ya andin.” Aku jalan tanpa memperhatikan lampu merah tiba-tiba lampu yang tadi merah menjadi hijau aku yang ingin menyebrang baru sampai setengah perjalanan. Sepeda motor yang melaju kencang kearah ku membuat kaki ku bergetar dan tak bisa bergerak jantung ku berdegup kencang aku sangat ketakutan. Aku memejamkan mata. Setelah beberapa menit. Aku heran kenapa sepeda motor tidak menabrakku ternyata setelah ku tengok lagi kea rah lampu merah. Lampu yang menyala yaitu bukan lurus kearah ku namun kearah kiri. Orang yang melihat ku tertawa aku sangat malu. Dan ku lihat andin tertawa sampai kelihatan giginya . ternyata dia memperhatikanku. Ya tuhan terima kasih masih telah menyelamatkan ku walaupun aku malu namun aku senang bisa membuat andin tertawa.

Malam yang tak habis

Malam yang tak habis

Malam yang bertabur bintang

Bahkan bulan pun tak datang

Timbul seribu kemungkinan

Yang membuat hati ini tak tenang

Angin berhembus melalui sela-sela jendela

Semakin mendinginkan malam

Yang gelap gulita

Dan aku masih terjaga

Terjaga di tengah dinginnya malam

Malam yang tak habis

Tak habis hanya untuk

Menangis…