Minggu, 13 Januari 2013

tinjauan umu pandangan dunia tekhnologi komunikasi didalam kehidupan budaya



Nama        : Dendi Setiawan
Kelas         : 1ea27
Npm           : 19212152

Tinjauan umum pandangan dunia teknologi komunikasi didalam kehidupan budaya

Teknologi komunikasi dewasa ini sangat berkembang pesat dalam satu dekade ini. Kita sebagai salah satu generasi muda yang memahami perkembangan teknologi seharusnya bisa membuat teknologi komunikasi menjadi sangat bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat.
Teknologi komunikasi sangat bermanfaat untuk masyarakat, sekarang masyarakat sudah tidak bersusah payah lagi dalam mengetahui apa yang terjadi di sekitar. Karena semua berita sudah tersaji di dalam televisi, radio, internet, danhandphone. Pengaruh teknologi komunikasi dalam kehidupan berbudaya seperti dua mata pisau, di satu sisi bermanfaat di sisi lainnya merugikan. Jika kita bijak dalam menggunakan teknologi komunikasi maka teknologi ini akan bermanfaat, tetapi teknologi komunikasi bisa juga merugikan apabila orang yang menggunakannya tidak punya pola pikir yang tepat dan tidak bijaksana. Contohnya Teknologi komunikasi dapat berguna sebagai alat untuk meminimalisir bencana. Ketika dulu akan terjadi gunung meletus budaya /kebiasaan masyarakat hanya mengandalkan tanda-tanda alam. Kini dengan kemajuan teknologi komunikasi masyarakat sudah dapat mengantisipasi semua sebelum bencana datang. Dengan adanya sms peringatan bencana, berita di televisi dan radio, dan juga satelit radar ,ini adalah Nilai positif teknologi komunikasi di dalam kehidupan budaya. Ada juga nilai negatifnya yaitu Ketika teknologi komunikasi jatuh ke tangan masyarakat yang punya itikad jahat dalam menggunakan teknologi komunikasi , maka teknologi tersebut juga bisa malah menjadi hal yang jahat, sebagai contoh ketika layanan sms malah di jadikan penipuan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mama minta pulsa yang sedang trend saat ini. Berita yang saya dapat dari beberapa sumber akhirnya pelaku penipuan tertangkap dan salah seorangnya adalah mahasiswa, sungguh ironi seorang generasi muda yang seharusnya melakukan pembelajaran kepada masyarakat, malah melakukan penipuan.
Adapun dampak tayangan televisi akan membentuk gaya hidup dalam masyarakat yang mengusung budaya baru, dimana media dapat ciptakan gaya hidup sebagai cerminan budaya populer. Tanpa disadari industri media khususnya televisi telah memberikan banyak pengaruh pada manusia, Televisi mampu menggiring alam pikiran manusia hingga pada akhirnya bisa merubah pola hidup, baik yang positif dan negatif di tengah-tengah kehidupan manusia. Segala macam apa yang ditayangkan televisi akan berdampak pada psikologi manusia yang mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja dari pengalaman mereka lihat, dan korbannya pun tanpa pandang bulu dibuatnya, siapapun sasarannya entah anak-anak, remaja, eksekutif muda ataupun orang tua sekalipun, semua bisa terjebak dalam ikatannya. Jika tidak ada pengontrolan yang terarah terhadap sepak terjang televisi dari pihak berwenang di negeri ini, maka kekhawatiran dari banyak pihak akan dampak dari penayangan program acara hasil ciptaan ala kadarnya itu pada masyarakat luas. “Berbagai macam realitas sosial tersebut telah menimbulkan sejumlah pandangan optimistik dan pesimistik di kalangan para ahli media dalam menanggapi tentang pengaruh media di dalam masyarakat. Pandangan ini melahirkan asumsi bahwa pengaruh tayangan dari industri media televisi akan mempunyai dampak sisi negatif dan sisi positifnya, namun sebagai manusia yang beradab tentunya fungsi pengontrolan itu setidaknya menurunkan sisi negatifnya seminimal mungkin. Tanpa terasa dampak tayangan dari televisi kini sudah mulai nampak di hadapan kita, bahkan tidak hanya nampak saja, akan tetapi sudah merasuk secara dalam dan menyatu dengan diri kita. Betapa tidak kalau kita amati mutu program dari beberapa stasiun televisi, belakangan ini konsep program acara yang dibuatnya terkesan kurang mendidik, sehingga menimbulkan pengaruh yang cukup besar terutama pada kalangan remaja dan anak-anak. Ditemukannya suatu fakta dewasa ini telah banyak perubahan pola hidup masyarakat yang semakin meningkat intensitasnya ke arah konsumtif, glamour, kehidupan seks bebas, telah tumbuh subur di lingkungan remaja perkotaan, bahkan kini telah mengepidemi sampai ke pelosok pedesaan melalui penyebarannya dengan bantuan jaringan media dan teknologi satelit komunikasi. Kenyataan ini menjelaskan bahwa Ideologi yang disebar luaskan lewat tayangan televisi, adalah melalui sistem kekuasaan. Dengan kekuasan media yang ada dalam genggamannya, maka ideologi yang ditanam lewat tayangan tersebut dapat terserap dengan sendirinya bersamaan dengan penangkapan pesan yang dikomunikasikan kepada masyarakat hingga masyarakat menjadi korbannya atas penyerapan dari tayangannya sebagai representatif dari budaya populer yang di bawa oleh televisi tersebut. Bagi Industri media televisi, tentunya sudah tidak asing lagi menciptakan perangkap acara yang di kemas secara menarik lewat beragam program acara dengan pengkonstruksian nilai dan maknanya serta dilancarkan secara terus-menerus dalam setiap serial komoditas, sehingga pemirsa begitu tergila-gilanya mengikuti apa yang disuguhkan oleh industri media televisi yang pengaksesannya bisa dilakukan kapan saja dengan secara gratis itu. Hal inilah yang dikemukakan oleh Kaum Marxis “… nilai-nilai yang menguntungkan orang-orang yang menjalankan masyarakat, tentang ide-ide yang berkuasa sepanjang masa merupakan hasil dari ide orang yang berkuasa. Berbagai macam gaya hidup telah direkonstruksi sedemikian rupa melalui beragam program acara yang mencerminkan kebohongan publik itu, hingga pada akhirnya dapat menimbulkan suatu kebohongan tersembunyi dan tanpa sadar telah menjadi bagian dari realitas kehidupan yang sebenarnya. Suatu penanaman konsep ideologi ke dalam format acara melalui teks-teks media dan makna-makna yang ada di dalamnya serta praktik-praktik budaya telah melahirkan “kesadaran palsu” di dalam persepsi pemirsa. Pola inilah sebagai bentuk keberhasilan konspirasi perkawinan antara kapitalisme dengan budaya popular dalam memanpulasi kesadaran masyarakat dengan kesadaran semu. kebudayaan industri merupakan satu bentuk dehumansasi lewat kebudayaan.



belajar dari awan



Nama              : Dendi Setiawan
NPM               : 19212152 (Transfer)
Kelas               : 4EA17

Belajar dari awan
Hari itu satu pekan panjang yang penuh dengan kesibukan mengajar keliling negri telah kulewati sekali lagi. Seperti biasa aku ingin menikmati situasi santai dalam penerbangan pulang, membaca, bahkan memejamkan mata untuk beberapa menit bilamana sempat.
 Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk kedalam pesawat, ternyata seorang anak kecil, sekitar delapan tahun, duduk pada kursi dekat jendela disebelahku. Aku sangat menyukai anak-anak. Namun, aku aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, “apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini. Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapanya dan mengajaknya berkenalan, dan ia menyebutkan namanya “AL” kami langsung mengobrol dan hanya dalam beberapa menit, ia menaruh kepercayaannya kepadaku, dengan berkata, “ini pertama kali saya naik pesawat, saya agak takut”
            “Naik pesawat itu kecil”, kataku, berusaha menumbuhkan keyakinannya. Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah diantara yang pernah kulakukan. Aku diam sejenak, untuk berfikir dan mulai bertanya kepadanya, “pernahkan kau naik roller coaster?” anak itu menjawab “ saya senang naik roller causter”, dan aku bertanya kembali pernahkan kau duduk paling depan?” lalu anak itu menjawab” ya, saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk yang paling depan dan aku tidak merasa takut”
            “Sesungguhnya, penerbangan ini tidak seberapa disbanding naik roller couster, aku tidaj berani naik roller couster tetapi aku tidak takut sama sekali bila naik pesawat terbang”  kataku kepada anak kecil itu. Lalu seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, dan aku mulai berfikir bahwa anak itu memang pemberani. Pesawat mulai ditarik menuju keujung landasan dan ketika pesawat itu meluncur naik, ia memandangi keluar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis diangkasa. “Awan yang ini seperti kupu-kupu dan yang itu kelihatan seperti seekor kuda”
            Tiba-tiba aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahun. Rasanya seolah-olah aku juga baru pertama kali itu terbang. Lalu anak itu bercerita bahwa ia dan adiknya pernah menjadi bintang iklan ditelevisi dan penglaman itu sangat mengesankan. Kemudian ia ingin pergi kekamr kecil, aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan “Saya menderita distrofi otot, adik perempuan saya juga ia bahkan harus menggunakan kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan, kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita distrofi otot”. Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum dan berbicara dengan nada agak malu-malu. “Tahukah anda, saya betul-betul khawatir, saya takut yang duduk disebelah saya adalah orang yang ketus, yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang senang duduk disebalah anda”
Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya. Aku diingatkan tentang untungnya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begiru selesai aku justru menjadi siswa. Sekarang setiap aku merasa suntuk, aku akan memandang keluar jendela dan mencoba menebak bentuk-bentuk awan yang terlukis diangkasa. Dan aku teringat kepada anak kecil yang benama “AL’, anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu.   

pengaruh kebudayaan pada pembelian



Nama              : Dendi Setiawan
Kelas               : 4EA17
NPM               : 19212152 (Transfer)
Tugas 3

Pengaruh Kebudayaan Terhadap Pembelian
v  Pengertian Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Definisi budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Budaya dipelajari melalui tiga cara berikut:
1. Belajar formal: orang tua dan tua-tua mengajar anak-anak cara yang tepat untuk berperilaku. Sebagai contoh, Anda telah diajarkan bahwa Anda perlu untuk belajar menjadi sukses dan bahagia dalam hidup. Pembelajaran ini dapat mempengaruhi respons Anda baik sebagai mahasiswa dan individu terhadap pendidikan.
2. Informal belajar: kita belajar dengan meniru perilaku orang tua kita, teman, atau dengan menonton TV dan film aktor dalam aksi
3. Teknis pembelajaran: instruksi yang diberikan tentang metode tertentu dengan yang hal-hal tertentu untuk dilakukan seperti melukis, menari, menyanyi dll

Karakteristik Kebudayaan
* Budaya dipelajari.
* Budaya adaptif.
* Budaya adalah lingkungan.
Budaya juga menentukan apa yang dapat diterima dengan iklan produk. Budaya menentukan apa yang orang pakai, makan, tinggal dan perjalanan. Nilai-nilai budaya di India adalah kesehatan yang baik, pendidikan, menghormati usia dan senioritas. Tetapi dalam budaya kita hari ini, kelangkaan waktu adalah masalah yang berkembang, yang berarti perubahan dalam makanan. Beberapa perubahan dalam budaya kita:

1 Kenyamanan: sebagai perempuan semakin banyak yang bergabung dengan angkatan kerja ada peningkatan permintaan untuk produk yang membantu mencerahkan dan meringankan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, dan membuat hidup lebih nyaman. Hal ini tercermin dalam penjualan mesin cuci melonjak, microwave, kompor Tekanan, Mixergrinders, pengolah makanan, dll makanan beku
2 Pendidikan:. Orang-orang di masyarakat kita saat ini ingin memperoleh pendidikan yang relevan dan keterampilan yang akan membantu meningkatkan prospek karir mereka. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa begitu banyak profesional, berorientasi karir pusat-pusat pendidikan yang datang, dan mereka tetap tidak bisa memenuhi permintaan. Sebagai contoh spesifik menghitung jumlah lembaga yang menawarkan kursus dan pelatihan di komputer yang telah dibuka di kota Anda.
3 Penampilan fisik:. Hari ini, kebugaran fisik, kesehatan yang baik dan penampilan cerdas pada premium saat ini. Pusat pelangsing dan salon kecantikan menjamur di semua kota besar negara. Kosmetik untuk wanita dan pria sedang dijual dalam jumlah yang meningkat. Bahkan toko-toko ritel eksklusif adalah pakaian desainer.
 4 Materialisme: Ada pergeseran yang sangat pasti nilai budaya masyarakat dari spiritualisme terhadap materialisme. Kami menghabiskan lebih banyak uang daripada sebelumnya dalam memperoleh produk seperti AC, dll CD player mobil, yang menambah kenyamanan fisik kita serta status.
v  PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.

1. Model perilaku konsumen
Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli setiap hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa mereka membeli.
Pertanyaan sentral bagi pemasar: Bagaimana konsumen memberikan respon terhadap berbagai usaha pemasaran yang dilancarkan perusahaan? Perusahaan benar−benar memahami bagaimana konsumen akan memberi responterhadap sifat-sifat produk, harga dan daya tarik iklan yang berbeda mempunyai keunggulan besar atas pesaing.
2. Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang.
Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.


3. Pengaruh Budaya Yang Tidak Disadari
Dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan . Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja. Ketika kita ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, kita akan otomatis menjawab, “ya karena memang sudah seharusnya seperti itu”. Jawaban itu sudah berupa jawaban otomatis yang memperlihatkan pengaruh budaya dalam perilaku kita. Barulah ketika seseorang berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka, lalu baru menyadari bahwa budaya telah membentuk perilaku seseorang. Kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya yang dimiliki bila seseorang dihadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang membiasakan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi akan merasa bahwa hal itu merupakan kebiasaan yang baik bila dibandingkan dengan budaya yang tidak mengajarkan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari. Jadi, konsumen melihat diri mereka sendiri dan bereaksi terhadap lingkungan mereka berdasarkan latar belakang kebudayaan yang mereka miliki. Dan, setiap individu akan mempersepsi dunia dengan kacamata budaya mereka sendiri.
4. Pengaruh Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan
Budaya yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial. Misalnya dengan adanya budaya yang memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga hal yang sama yang akan dilakukan konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi makanan olahan dan suatu obat.
5. Pengaruh Budaya dapat Dipelajari
Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku. Ada juga misalnya seorang anak belajar dengan meniru perilaku keluarganya, teman atau pahlawan di televisi. Begitu juga dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model untuk ditiru masyarakat. Misalnya dengan adanya pengulangan iklan akan dapat membuat nilai suatu produk dan pembentukan kepercayaan dalam diri masyarakat. Seperti biasanya iklan sebuah produk akan berupaya mengulang kembali akan iklan suatu produk yang dapat menjadi keuntungan dan kelebihan dari produk itu sendiri. Iklan itu tidak hanya mampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai keuntungan dari suatu produk, namun dapat juga memepengaruhi persepsi generasi mendatang mengenai keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.
6. Pengaruh Budaya yang Berupa Tradisi
Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradisi-tradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.

Sabtu, 29 Desember 2012

Tinjauan umum pandangan dunia teknologi komunikasi didalam kehidupan budaya



Nama        : Dendi Setiawan
Npm           : 19212152
Kelas         : 1EA28
Tinjauan umum pandangan dunia teknologi komunikasi didalam kehidupan budaya

Teknologi komunikasi dewasa ini sangat berkembang pesat dalam satu dekade ini. Kita sebagai salah satu generasi muda yang memahami perkembangan teknologi seharusnya bisa membuat teknologi komunikasi menjadi sangat bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat.
Teknologi komunikasi sangat bermanfaat untuk masyarakat, sekarang masyarakat sudah tidak bersusah payah lagi dalam mengetahui apa yang terjadi di sekitar. Karena semua berita sudah tersaji di dalam televisi, radio, internet, danhandphone. Pengaruh teknologi komunikasi dalam kehidupan berbudaya seperti dua mata pisau, di satu sisi bermanfaat di sisi lainnya merugikan. Jika kita bijak dalam menggunakan teknologi komunikasi maka teknologi ini akan bermanfaat, tetapi teknologi komunikasi bisa juga merugikan apabila orang yang menggunakannya tidak punya pola pikir yang tepat dan tidak bijaksana. Contohnya Teknologi komunikasi dapat berguna sebagai alat untuk meminimalisir bencana. Ketika dulu akan terjadi gunung meletus budaya /kebiasaan masyarakat hanya mengandalkan tanda-tanda alam. Kini dengan kemajuan teknologi komunikasi masyarakat sudah dapat mengantisipasi semua sebelum bencana datang. Dengan adanya sms peringatan bencana, berita di televisi dan radio, dan juga satelit radar ,ini adalah Nilai positif teknologi komunikasi di dalam kehidupan budaya. Ada juga nilai negatifnya yaitu Ketika teknologi komunikasi jatuh ke tangan masyarakat yang punya itikad jahat dalam menggunakan teknologi komunikasi , maka teknologi tersebut juga bisa malah menjadi hal yang jahat, sebagai contoh ketika layanan sms malah di jadikan penipuan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mama minta pulsa yang sedang trend saat ini. Berita yang saya dapat dari beberapa sumber akhirnya pelaku penipuan tertangkap dan salah seorangnya adalah mahasiswa, sungguh ironi seorang generasi muda yang seharusnya melakukan pembelajaran kepada masyarakat, malah melakukan penipuan.
Adapun dampak tayangan televisi akan membentuk gaya hidup dalam masyarakat yang mengusung budaya baru, dimana media dapat ciptakan gaya hidup sebagai cerminan budaya populer. Tanpa disadari industri media khususnya televisi telah memberikan banyak pengaruh pada manusia, Televisi mampu menggiring alam pikiran manusia hingga pada akhirnya bisa merubah pola hidup, baik yang positif dan negatif di tengah-tengah kehidupan manusia. Segala macam apa yang ditayangkan televisi akan berdampak pada psikologi manusia yang mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja dari pengalaman mereka lihat, dan korbannya pun tanpa pandang bulu dibuatnya, siapapun sasarannya entah anak-anak, remaja, eksekutif muda ataupun orang tua sekalipun, semua bisa terjebak dalam ikatannya. Jika tidak ada pengontrolan yang terarah terhadap sepak terjang televisi dari pihak berwenang di negeri ini, maka kekhawatiran dari banyak pihak akan dampak dari penayangan program acara hasil ciptaan ala kadarnya itu pada masyarakat luas. “Berbagai macam realitas sosial tersebut telah menimbulkan sejumlah pandangan optimistik dan pesimistik di kalangan para ahli media dalam menanggapi tentang pengaruh media di dalam masyarakat. Pandangan ini melahirkan asumsi bahwa pengaruh tayangan dari industri media televisi akan mempunyai dampak sisi negatif dan sisi positifnya, namun sebagai manusia yang beradab tentunya fungsi pengontrolan itu setidaknya menurunkan sisi negatifnya seminimal mungkin. Tanpa terasa dampak tayangan dari televisi kini sudah mulai nampak di hadapan kita, bahkan tidak hanya nampak saja, akan tetapi sudah merasuk secara dalam dan menyatu dengan diri kita. Betapa tidak kalau kita amati mutu program dari beberapa stasiun televisi, belakangan ini konsep program acara yang dibuatnya terkesan kurang mendidik, sehingga menimbulkan pengaruh yang cukup besar terutama pada kalangan remaja dan anak-anak. Ditemukannya suatu fakta dewasa ini telah banyak perubahan pola hidup masyarakat yang semakin meningkat intensitasnya ke arah konsumtif, glamour, kehidupan seks bebas, telah tumbuh subur di lingkungan remaja perkotaan, bahkan kini telah mengepidemi sampai ke pelosok pedesaan melalui penyebarannya dengan bantuan jaringan media dan teknologi satelit komunikasi. Kenyataan ini menjelaskan bahwa Ideologi yang disebar luaskan lewat tayangan televisi, adalah melalui sistem kekuasaan. Dengan kekuasan media yang ada dalam genggamannya, maka ideologi yang ditanam lewat tayangan tersebut dapat terserap dengan sendirinya bersamaan dengan penangkapan pesan yang dikomunikasikan kepada masyarakat hingga masyarakat menjadi korbannya atas penyerapan dari tayangannya sebagai representatif dari budaya populer yang di bawa oleh televisi tersebut. Bagi Industri media televisi, tentunya sudah tidak asing lagi menciptakan perangkap acara yang di kemas secara menarik lewat beragam program acara dengan pengkonstruksian nilai dan maknanya serta dilancarkan secara terus-menerus dalam setiap serial komoditas, sehingga pemirsa begitu tergila-gilanya mengikuti apa yang disuguhkan oleh industri media televisi yang pengaksesannya bisa dilakukan kapan saja dengan secara gratis itu. Hal inilah yang dikemukakan oleh Kaum Marxis “… nilai-nilai yang menguntungkan orang-orang yang menjalankan masyarakat, tentang ide-ide yang berkuasa sepanjang masa merupakan hasil dari ide orang yang berkuasa. Berbagai macam gaya hidup telah direkonstruksi sedemikian rupa melalui beragam program acara yang mencerminkan kebohongan publik itu, hingga pada akhirnya dapat menimbulkan suatu kebohongan tersembunyi dan tanpa sadar telah menjadi bagian dari realitas kehidupan yang sebenarnya. Suatu penanaman konsep ideologi ke dalam format acara melalui teks-teks media dan makna-makna yang ada di dalamnya serta praktik-praktik budaya telah melahirkan “kesadaran palsu” di dalam persepsi pemirsa. Pola inilah sebagai bentuk keberhasilan konspirasi perkawinan antara kapitalisme dengan budaya popular dalam memanpulasi kesadaran masyarakat dengan kesadaran semu. kebudayaan industri merupakan satu bentuk dehumansasi lewat kebudayaan.